Isnin, 21 Februari 2011

Mencari Cinta...

Alkisah pada suatu zaman,
hidup seorang lelaki yang mencari cinta,
namanya Arjuna.
Gunung tertinggi sanggup didaki,
seluruh daratan dijelajahi,
lautan juga sanggup diharungi,
semata-mata untuk mencari insan bernama WANITA.
Memang gila!
Si Arjuna tidak peduli gunung, daratan,
lautan, alam semesta ini milik siapa,
semuanya diterjah!
Di setiap tempat Arjuna berkata,
“Wahai wanita, cintailah aku.”


Dalam kisah yang lain,
seorang lelaki yang bernama Ibrahim juga mencari cinta.
Saat malam mulai menyapa alam,
tampak sebutir bintang.
Tidak lama kemudian bintang itu pun tenggelam.
“Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim.
Beberapa saat kemudian,
terbitlah pula rembulan,
bersinar indah penuh kelembutan.
Namun, bulan juga hanya sesaat,
tersipu malu dengan keindahannya.
Azan subuh pun menguak kegelapan,
kokok ayam jantan membelah titisan embun pagi,
dan tidak lama kemudian keperkasaan mentari menerangi jagat raya ini.
“Inikah dia yang kucari?” tanya beliau sendirian.
Bukan... bukan itu, kerana mentari juga bersujud,
lalu merunduk sembunyi.

Kisah di atas adalah gambaran dua orang manusia si pencari cinta.
Di dunia ini, betapa banyak orang yang mencari cinta.
Namun jelas ada bezanya di sini,
antara lelaki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim AS,
yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al-Quran.

Arjuna mencari cintanya tanpa hala tuju,
tidak peduli apa-apa, yang dia fikirkan cuma mencari cinta wanita.
Salahkah si Arjuna kerana dia mencari cinta?
Memang fitrah manusia itu pasti merasakan cinta (QS. Ali Imran : 14).
Tapi apakah harus seperti itu?
Sehingga akal dan fikiran bagai tidak berfungsi,
bahkan hingga melebihi cinta-Nya!

Banyak kisah cinta sejati di dunia ini,
salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tidak pernah pudar,
setelah mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya.
Beliau mengenal, dan kemudian sayang,
lantas jatuh hati kepada Maha Pencipta.
Maka itu yang dicintai juga berkenan menyambut cintanya,
bahkan menjadikannya sebagai khalilullah (QS. An-Nisaa' : 125).
Cinta di sini bukan cinta yang penuh kepalsuan,
emosi apa lagi berahi.
Namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini,
mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya.
Cinta ini mestinya menepati kedudukan utama pada diri seorang muslim,
yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya.

Inilah cinta hakiki!
Dari nenek moyang kita dulu,
hingga sekarang,
banyak manusia yang telah jatuh cinta,
namun apakah cinta mereka dan kita
adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia langit?’

Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath,
yang bersedia menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam
demi mempertahankan akidah yang dicintainya.

Ataukah, Ali bin Abi Thalib RA
yang rela ‘menyerahkan tubuh’
menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya
sewaktu Baginda keluar untuk hijrah,
sedangkan beliau tahu maut telah di depan mata mengancam jiwanya?

Atau pun Abu Bakar Shiddiq RA
yang tidak kalah ikhlas tangan dan kakinya
dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya?
Dia tidak ingin tubuh orang yang dicintai
dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh
binatang-binatang yang berbisa itu.

Mereka hanyalah sedikit contoh daripada
orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya.
Sebuah cinta sejati,
cinta hakiki yang akan mendapatkan redha Illahi Rabbi.

Maka,
sekarang kita pilihlah untuk menjadi siapa,
seorang Arjuna yang mencari cinta melulu,
atau seorang
Ibrahim AS,
Sumayah binti Khayyath,
Ali bin Abi Thalib RA
atau pun
Abu Bakar Shiddiq RA
yang mencari cinta sejati?

Jumaat, 11 Februari 2011

Saat Manusia Mulia menghadapi Sakaratul Maut

Maulidur Rasul akan tiba, semoga rasa cinta dan rindu kepada Rasulullah akan subur dalam sanubari setiap Muslim di dunia ni. 

RASULULLAH S.A.W. HADAPI SAKARATULMAUT...

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, 

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan Sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai anakku?"

"
Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.


"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,"
kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.


"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"
kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.


"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?"
Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"


"
Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.


"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapalah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal,"
kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.


"Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua seksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."


Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.


"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku."

-peliharalah solat dan peliharalah mereka yang lemah di antaramu.-


Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.


"Ummatii, ummatii, ummatiii.."

-Umatku, umatku, umatku..-

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Ramai antara kita yang mengalirkan air mata menonton filem di TV, tapi berapa ramai yg menangis membaca kisah saat akhir Rasulullah ini? 

Renung²kan dan Selamat Beramal...

 

Rabu, 9 Februari 2011

12 Jika, Ditanah Mesir

-Jikalau saudara-saudara Yusuf tidak mengkhianatinya sudah pasti Yusuf tidak akan dibuang ke dalam Jubb (telaga).
 
-Jikalau Yusuf tidak dibuang ke dalam Jubb,pasti musafir tidak akan menjumpainya.
 
-Jikalau Musafir tidak menjumpainya,pasti Yusuf tidak akan dibawa ke Mesir.
 
-Jikalau Yusuf tidak dibawa ke Mesir,pasti Yusuf tidak akan dibeli oleh Qithfir.
 
-Jikalau Qithfir tidak membeli Yusuf,pasti Yusuf tidak akan bertemu dengan Zulaikha.
 
-Jikalau Yusuf tidak bertemu dengan Zulaikha,pasti Yusuf tidak akan digoda olehnya.
 
-Jikalau Yusuf tidak digoda Zulaikha,pasti Yusuf tidak akan difitnah oleh Zulaikha.
 
-Jikalau Yusuf tidak difitnah,pasti Yusuf tidak akan dimasukkan ke dalam penjara.
 
-Jikalau Yusuf tidak masuk penjara,pasti yusuf tidak akan bertemu dengan 2 orang pelayan Raja Mesir.
 
-Jikalau Yusuf tidak bertemu dengan pelayan Raja Mesir, pasti Yusuf takkan bertemu dengan Raja Mesir lalu mentafsirkan mimpi 7 ekor lembu gemuk dimakan oleh 7 ekor lembu kurus dan 7 tangkai tanaman hijau dan yang selebihnya adalah kekeringan dan kekuningan.
 
-Jikalau Yusuf tidak mentafsirkan mimpi raja dan menyelamatkan Mesir dari kemarau,pasti Mesir tidak akan terhutang budi pada Yusuf.
 
-Jikalau Mesir tidak terhutang budi,pasti Yusuf tidak akan dilantik menjadi Pemerintah Mesir."

Rabu, 26 Januari 2011

Cinta Ketuhanan

Ahli Makrifat itu tidak mempunyai makrifat jika ia tidak mengenal Allah dari segala sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap.  Ahli Hakikat hanya ada satu arah iaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri.   

"Ke mana saja kamu memandang,  di situ ada Wajah Allah" (Al-Qur-an)
"Ke mana saja kamu memandang",  sama ada dengan deria atau akal atau khayalan,  maka di situ ada Wajah Allah".
 
Persoalan kita kenal dan tahu berkenaan ahli makrifat dan apakah makrifat itu tidak timbul di sini.   Petah berkata-kata dan cekap dalam berhujah berkenaan dengan apa yang berkaitan dengan mereka tidak diperlukan di sini.
 
Apa yang perlu di sini  adalah kesedaran diri kita berkenaan pekerjaan dan keadaan mereka.  Mereka cuma ada satu pandangan sahaja yakni "Ke mana saja kamu memandang,  di situ ada Wajah Allah"
Tahu dan boleh tidak sama dengan "yang sedar diri".  Yang sedar kepada pekerjaan diri mereka dan yang sedar dengan keadaan diri mereka.
 
Apabila diminta mereka berkata,  maka mereka akan bertutur mengikut pekerjaan diri mereka dan mengikut keadaan diri mereka.  Bukan dengan sangka-sangkaan ilmunya,  bukan dengan cerita itu dan cerita ini,  tetapi disampaikan mengikut kesedaran berkenaan pekerjaan dirinya dan keadaan dirinya. Mereka berkata dalam keadaan sedar diri dan bertutur dengan bahasa pekerjaan dan keadaan dirinya.
 
Ini bukanlah soal Mengenal Allah apabila hijab itu tersingkap,  tetapi adalah soal MengenalNya dalam hijab itu sendiri..........Kesempurnaan adab itu ialah memerlukan hijab itu dipelihara.........
 
Berhadapan dengan yang buta tidaklah perlu kebenaran itu dipertahankan.  Tidak usah berhujah,  jauh sekali daripada berjidal kerana itu adalah hal-ahwal mereka yang buta.  Biarkan si buta melalak-lalak mempertikaikan barang yang kita miliki.  Walau bagaimana kita susun aturkan perihal barang milik kita dengan kata-kata yang benar,  si buta akan tetap tidak akan dapat nampak "barang pesaka' yang kita simpan.   Kefahaman mereka berkenaan barang pesaka ini tidak sama dengan mata yang melihat dan menyaksikan keujudannya.  Bersabarlah dengan lidah yang kelu tanpa bahasa.
Jika pemberian yang sedikit itu sudah kita hilang kesabaran diri,  bagaimana mungkin untuk menanggung sesuatu yang lebih besar. Yakinilah wahai saudara-saudaraku.  Semoga Allah memberikan PetunjukNya kepada anda bahawa....... 

Hanya Cinta kepada Allah yang boleh menamatkan perbalahan ini.  Hanya Cinta yang boleh menolong apabila anda meraung meminta tolong dari cengkaman mereka.  Mulut bisu dalam Cinta;  perbalahan tidak ada.  Si 'asyik kuatir untuk menjawab balik perbalahan itu,  kerana takutkan mutiara keruhanian(mistik) itu keluar dari mulutnya.
Umpama burung hinggap di atas kepala anda dan anda kuatir ia terbang lari.  Anda tidak bergerak atau menghembuskan nafas yang kuat.  Anda tahankan diri anda supaya tidak terbatuk.  Semua itu takutkan burung itu terbang.  Kalau ada orang bertanya,  anda letakkan jari di mulut yang bertutup memberi isyarat "diam".
Cinta Ketuhanan ibarat burung itu.  Ia membuatkan anda tidak mahu membuka mulut.  Ibarat cerek yang panas dan menggelegak airnya.  Tudung cerek itu anda tutupkan supaya airnya tidak keluar.
 
 Fudhoil bin Iyadh seorang wali Allah berkata kepada seorang lelaki;
"Jika sesiapa bertanya kepada mu samada kamu cinta kepada Allah,  hendaklah kamu diam kerana jika kamu kata:  "Saya tidak cinta kepadaNya",  maka kamu kafir dan jika kamu berkata,  "Saya cinta",  maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu."
 
FAHAMILAH WAHAI DIRIKU............

Nafas Ibadah...

Sesiapa yang inginkan kemenangan dunia dan akhirat, janganlah dibiarkan masa berlalu dengan penuh kerugian. Jadikan setiap nafasmu nafas ibadah.


Wahai saudaraku,


Setelah engkau memiliki ilmu tiadalah lagi perkara yang penting melainkan beramal dengan ilmu, berilmu tanpa amal adalah binasa. Janganlah engkau berpaling lagi ke belakang, terus sucikan dirimu untuk menghampiri Tuhanmu sehingga terbuka cahaya hatimu dengan ilmu terus dariNya tanpa perantaraan. Hatimu akan bersinar dengan cahaya makrifat dan engkau memiliki harta yang amat bernilai, harta yang tiada dijual dimaya ini, tiada dimiliki oleh para jutawan dan para raja, harta yang menyebabkan engkau sentiasa tenang dan tiada mengharapkan apa bantuan dari sekelilingmu. Engkau akan diangkat menjadi kekasihNya sehinga segala hajatmu akan dipenuhi, engkau akan dijagaNya sehingga sesesiapa yang menyakitimu akan diisytihar perang ke atasnya. Tiadalah kejayaan yang hakiki melainkan berada dalam taman keredhaan takdirNya, hati yang terang menatap rahsiaNya, hati yang asyik dengan Asma’Nya, hati yang fana dengan kewujudanNya.


Wahai saudaraku,


Apabila engkau benar-benar beramal dan bersungguh bermujahadah dengan penuh keikhlasan,dilimpahkan ke dalam hatimu rahsia di sebalik rahsia.diperlihat hakikat di sebalik syariat, engkau mengenal dirimu dengan pengenalan yang hakiki, bukan diatas hafalan ilmu semata-mata tetapi dengan dzauk dan Penglihatan.diberiNya Nur sehingga dengan Nur tersebut akan dapat menyaksikan Rahsia DiriNya.Engkau mencapai makrifat denganNya bukan dengan Guru manusia, Dia sendiri yang akan membisikkan pada sirrmu bahawa “ANA AL-HAQ”, maka tenggelamlah engkau dalam makrifat sehingga engkau tiada melihat tiada segala sesuatu melainkan Ia. Engkau akan melihat bahawa tiada suatu gerak melainkan gerak dariNya, tiada suatu yang maujud melainkan disana ada wujudNya, engkau akan memahami firmanNya; “Di mana kamu hadap disitulah wajah Allah”, “Wahai manusia, sesungguhnya kamu adalah fakir disisi Allah”, “Di mana kamu berada disitulah Ia berada” dengan kefahaman yang tiada dimiliki oleh orang biasa. engkau akan dikasihiNya sehingga akan Engkau akan Hatimu




Tafsiran syariat adalah pembukaan sedangkan pentafsiran hakikat dengan dzauk dan pandangan. Tiada akan sama seorang yang melihat permukaan laut dengan mereka yang menyelam ke dasar laut. Tiada sama mereka yang mengenal diriNya pada permukaan zahir dengan mereka yang menyelam ke dalam lautan rahsia diri. Tiada akan sama dengan seorang yang belajar mengenal Tuhan dengan Guru manusia dengan mereka yang mengenal Tuhan dengan Tuhan sendiri.Tiada akan sama mereka yang mengucap La ilaha illaLlah di alam syariat dengan mereka yang mengucapnya di alam hakikat. Tidak akan sama huruf, kalimah dan bunyinya pada alam syariat dengan alam hakikat, tiada akan sama kenikmatan atau kepedihan di alam nyata ini dengan alam hakikat, tiada akan sama orang yang mati hatinya dengan orang yang hatinya sentiasa hidup dan asyik dengan Tuhan dan inilah yang mesti difahami sebagaimana firman Allah “Tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tiada ilmu,” “Tiada akan sama orang ahli syurga dengan ahli neraka”.




Wahai para Salik,


Jika engkau bersungguh-sungguh mengamalkan zikir di bawah bimbingan Guru yang telah terbuka baginya rahsia segala alam sehingga telah mencapai kesempurnaan makrifat, engkau akan merasakan perubahan pada rohanimu. Ruhmu akan melalui pendakian dari hati yang lalai kepada hati yang hidup mengingati Allah, dari hati yang hidup mendaki kepada hati yang asyik, kemudian mendaki pula kepada hati yang fana dan kemudian mendaki pula (kepada) meminum rahsia makrifat di alam yang tinggi. Nabi saw telah melakukan israk mikraj, membuka dan membelah langit bagi umatnya kepada Tuhannya.


Janganlah menjadi manusia yang bodoh dan lalai, pintu yang yang terbuka perlulah dilalui. Nabi dipimpin oleh malaikat Jibrail menujuNya dan engkau memerlukan Mursyid yang memimpin tanganmu dengan kasih sayang menuju TuhanMu. Kamu dibawa ke alam peleburan diri sehingga tiada kamu temui sesiapapun disitu melainkan DIA SAJA YANG WUJUD. Engkau akan memahami kalimah la ilaha illaLlah wahdahu laa syarikaalah dengan kefahaman yang terkunci lisanmu hendak dinyatakan. Engkau juga akan memahami beberapa ramai orang yang tidak mencapai kesempurnaan maqam ini tersilap tafsirannya sehingga ada yang mengaku dirinya Tuhan, mengaku dirinya jelmaan Tuhan, mengaku dirinya dan Tuhan bersatu sehingga ada dikalangan mereka yang meninggalkan syariat. Mereka tiada dibuka rahsia dengan sempurna atau pandangan makrifat mereka diserta dengan syaitan atau Jin. Mereka cuba bercakap ilmu para sufi namun mereka gagal dalam menyelami rahsiaADAMdanMUHAMMAD”. Mereka juga gagal memahami rahsia mufaraqah sebagaimana terpisahnya air laut dengan air sungai atau terpisahnya api dengan asap.




Wahai saudaraku,


Berjalanlah dirimu kepada Tuhan dengan berpakaian syariat, tarekah, hakikat dan makrifat. Syariat itu adalah pakaian Nabi, tarekah itu adalah perjalanan Nabi, hakikat itu adalah batin Nabi dan makrifat itu adalah rahsia Nabi. Berpakaian syariat sahaja tanpa hakikat adalah fasik, hakikat sahaja tanpa syariat adalah zindik. Seorang yang berada di alam syariat sahaja adalah masih tertipu kerana apa yang dilihat dan didengar oleh syariat tidak menjamin akan kebenaran hakikat, justeru itu seseorang perlu menyelami lautan hakikat dan tiada cara untuk menghubungkan antara ilmu syariat dan ilmu hakikat melainkan berilmu dan mengamalkan tarekah. Apabila dadamu benar-benar memiliki rahsia ilmu para auliya, engkau akan memahami kenapakah mereka itu amat kuat takut pada Allah, amat kuat berpegang pada syariat, amat wara’ dalam setiap pekerjaan, amat zuhud pada dunia, amat redha dengan takdir Allah, amat kuat ibadahnya, amat baik akhlak jiwanya, amat kuat tawakalnya, amat tinggi syukurnya dan amat tinggi cintanya pada Allah dan Rasul. Mereka memiliki penglihatan yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa, ia adalah Nur yang dicampakkan ke dalam dada oleh Tuhannya sehingga tembus penglihatannya pada alam rahsia dan FANA dan BAQA ia dengan kekasihnya. Fahamilah ia rahsia cahaya di sebalik cahaya. Berbahagialah mereka yang mencapainya dan merekalah yang sebenarnya telah mencapai kejayaan hakiki baik dunia atau akhirat.


WaLlahu ‘alam.



Dipetik daripada "Kitab Pendakian Salik Menuju Allah" karangan Syeikh Tokku Ibrahim Mohamad

Apakah Batu Besar Kita?

Mungkin anda sudah mendengar cerita ini, hanya sebagai refresh sahaja.

Satu hari seorang pensyarah sedang memberi kuliah tentang pengurusan masa kepada mahasiswa. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata. “Okay. Sekarang masa untuk quiz.” Kemudian ia mengeluarkan sebuah baldi yang kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi baldi tersebut dengan batu-batu yang besar.

Dia terus mengisi batu sehingga tidak ada lagi batu yang muat untuk dimasukkan ke dalam baldi, dia bertanya pada kelas, “Menurut anda, adakah baldi ini sudah penuh?” Semua pelajar serentak berkata, “Ya!”


Cikgu bertanya kembali. “Betulkah”? “Kemudian dari dalam meja ia mengeluarkan sebekas batu kerikil kecil, lalu menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam baldi lalu menggoncang-goncang baldi itu sehingga batu kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu besar.

Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, “Ok, adakah sekarang baldi ni dah penuh?” Kali ini para pelajar terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.” “Bagus..” sahut pensyarah.

Kemudian dia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam baldi. Pasir itu jatuh mengisi di celah-celah ruang kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas,
“Baiklah, sekarang baldi ini sudah penuh?”

“Belum!” jawab seluruh kelas.

Sekali lagi dia berkata, “Bagus…” Kemudian dia mengeluarkan sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam baldi sampai ke penuh.

Ok sekarang lihat eksperimen kedua saya,dia pun memasukkan air terlebih dahulu sehingga , kemudian meletakkan sekantung pasir dan batu kerikil. Baldi itu kelihatan sudah penuh sehingga dia hanya dapat meletakkan sedikit sahaja batu-batu besar. Banyak lagi batu besar tidak dapat dimasukkan ke dalam baldi. Dia cuba menyumbat dan menggoncang baldi tetapi masih ada banyak lagi baki batu besar yang tidak boleh dimasukkan.

Lalu dia berpusing ke kelas dan bertanya, ‘Tahukah anda apa maksud illustrasi ini?”

Kenyataan dari batu dan baldi ini mengajarkan pada kita bahawa:

Bila anda tidak memasukkan “batu besar” terlebih dahulu, maka anda tidak akan boleh memasukkan semuanya.”

Apa yang dimaksudkan dengan “batu besar” dalam hidup anda? keluarga anda, pelajaran anda,ibadat anda, pekerjaan anda dan perkara yang penting dalam hidup anda seperti kesihatan anda, kawan-kawan anda dan yang seharusnya dijadikan prioriti utama dalam hidup anda.

Ingatlah supaya memasukkan “Batu Besar” dahulu sebelum batu-batu kecil atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan perkara-perkara kecil (seperti kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan perkara-perkara kecil yang merisaukan dan ini sepatutnya tidak perlu seperti bermain games,facebook, melepak dan sebagainya sehingga masa anda terbuang begitu sahaja sehari sedangkan anda tidak memenuhkan ‘baldi’ anda dengan batu besar.

Kerana dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki masa yang cukup untuk perkara-perkara yang besar dan penting.

Oleh kerana itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: “Apakah batu besar-batu besar dalam hidup saya?” dan buatlah perkara itu dahulu.

Kalau

Kalaulah Allah lihatkan amalan kita.
Berapa banyak dosa. Berapa banyak pahala??

Kalaulah dosa itu macam batu.
Berapa berat perlu kita angkat?

Kalaulah pahala itu bagai duit.
Berapa banyak boleh simpan dalam akaun??

Kalaulah nafsu itu punya bentuk dan rupa, dan syaitan ada di sebelah kita dalam wajah tersendiri.
Adakah kita akan berkawan dengan mereka?
atau takut dan memusuhi mereka?
atau kita tetap jadi lagi teruk dari syaitan..
(tetap sama seperti biasa kita buat)

Kalaulah, Muhammad hidup bersama kita.
Adakah kita layan baginda selayaknya sebagai seorang nabi.
Malu berbuat dosa depan mata banyaknya bertimbun-timbun.
Malu dengan syirik dan khurafat yang kita buat.
Malu sebab tinggalkan risalah baginda.
Malu bergaduh sesama Islam padahal kita dah tahu kita saudara.

Hanya sebab kuasa,ideologi dan harta.
Padahal dah tahu tak bawak kemana pun harta berlambak sedunia.
Padahal dah tahu pegangan kita sama!!
Padahal dah tahu pangkat dan jawatan tak mampu membeli ampunan dari Allah!!

Kalaulah kita nampak syurga dan neraka.
Tempat dan rupa nya bagaimana?
Apa ada dalam syurga?
Apa isi dalam neraka?

Dan setiap Ahmad, Abdullah dan ar-rijal dicop dia munafiq, kufur, islam atau beriman...
Masihkah aku dan kau lari dari tanggungan amalan..
Masihkah kita berdalih dan beralasan??

Kalaulah Allah menampak kan wajahNya pada kita
masihkah kita sanggup syirikkan dia?
Agungkan cinta manusia lagi tinggi dari cinta Dia!!


Berkalau-kalau tu amalan syaitan..
tapi "kalau" yang ini aku tulis untuk keluarkan kau,aku & dia dari terus teruk daripada syaitan...